Selasa, 20 Agustus 2013

Last Letter (Surat Terakhir)

Judul : Last Letter (Surat Terakhir)
Genre : School Life
Author : Bagus Yudi Purnomo

Mendungnya malam ini, tanpa bintang, tanpa bulan, hanya awan gelap yang menyelimuti. Mungkin bisa dibilang ini semua mewakili apa yang sedang aku rasakan. Hari ini, tepat setahun sejak aku terakhir kali berkirim surat dengannya, seorang gadis pendiam yang telah menjadi temanku sejak SMA, bahkan aku masih ingat bagaimana awal perjumpaan kami, dan aku masih ingat kejadian-kejadian yang kita alami bersama.

Gadis itu bernama Luna, seorang gadis polos yang pemalu dan pendiam, tapi memiliki keunikan tersendiri yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Kami pertama kali bertemu di lorong sekolah, ketika aku berlari karena dikejar oleh teman-temanku dan secara tak sengaja menabrak dia yang sedang berjalan sambil membawa tumpukan buku yang menurutku sangat berat untuk dibawa oleh seorang gadis seperti dia.

#Flashback#

“Kamu ga apa-apa?” tanyaku kepadanya sambil membantunya berdiri.
“Ya....ya... aku gapapa kok” ujar gadis itu sambil membersihkan rok sekolahnya yang kotor karena terjatuh tadi.
Aku pun membantunya membawa buku-buku yang berat itu,  ternyata kami membawa buku-buku itu menuju perpustakaan sekolah, kami pun segera menuju penjaga perpustakaan untuk mengembalikan buku-buku itu, kemudian segera keluar dari perpustakaan.
“Ma..makasih ya” ucap gadis itu sambil menunduk.
“Ya, sama-sama. Oh ya, kita belum sempet kenalan. Aku Dika, dari kelas 2-B, salam kenal ya.” Ucapku padanya.
“Aku Luna, dari kelas 2-E, salam kenal juga Dika” balasnya sambil tetap menunduk.

#Back to Story#

Semenjak perkenalan itu, aku jadi semakin akrab dengan Luna, kami sering menghabiskan waktu bersama di sekolah. Aku seringkali menjemput Luna ke kelasnya ketika waktu pulang sehingga banyak teman-temannya yang mengira jika aku pacarnya, padahal kami hanya berteman, tidak lebih. Jarak rumah kami bisa dibilang cukup jauh, tapi seakan jarak yang jauh itu tidak terasa ketika kami pulang bersama, karena jalan bareng Luna menurutku menyenangkan, walau dia lebih banyak diam dan hanya menjawab ketika aku bertanya.

Tanpa terasa, sekarang kami sudah kelas 3 dan itu artinya sebentar lagi kami akan menjalani ujian kelulusan dan ujian masuk Perguruan Tinggi bagi mereka yang mau melanjutkan kuliah, atau mencari pekerjaan bagi mereka yang sudah malas bergulat dengan buku. Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang ada di kota, sedangkan Luna akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang ada di kota lain dekat tempat tinggalnya neneknya, yang artinya kami akan berpisah untuk melanjutkan studi masing-masing.

Karena banyaknya siswa kelas 3 yang mempersiapkan diri menghadapi ujian, termasuk aku dan Luna, kami jadi jarang bertemu ataupun pulang bareng seperti biasanya. Aku lebih sering menghabiskan waktu mengerjakan soal-soal ujian tahun lalu di karena biasanya ada kesamaan soal ujian dari tahun ke tahun, sedangkan Luna lebih sering belajar di perpustakaan. Kami hanya pulang bareng ketika Luna tidak ada jadwal les, dan seperti biasa dia hanya diam dan menjawab ketika ku tanya.

Menjelang hari ujian, kami malah tidak bertemu sama sekali, aku semakin giat mengisi soal-soal tahun kemarin begitupun dengan dia, ditambah jadwal lesnya yang semakin diperbanyak menjelang ujian. Terkadang aku merasa kesepian karena ga bisa ketemu dengan Luna, tapi aku berfikir setelah ujian pasti kami akan kaya dulu lagi, selalu bersama.

Ketika hari ujian pun tiba, fikiranku kacau memikirkan soal-soal ujian yang akan keluar, aku juga memikirkan apakah luna bisa menjawab soal-soal ujian yang ada atau ngga.
Setelah beberapa hari ujian, akhirnya ujian terakhir pun telah selesai dan aku langsung menuju ruang ujian Luna untuk bertemu dengannya setelah sekian lama. Ketika bertemu, wajahnya terlihat murung, kutanya kenapa dia murung tapi dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, aku berfikir mungkin dia takut kalo jawabannya banyak yang salah dan dia tidak lulus, jdi aku mencoba menenangkannya sambil mencari topik lain untuk dibicarakan. Walau dia tetap tidak banyak bicara ketika aku membahas berbagai topik, tapi setidaknya itu membantu, terbukti dengan wajahnya yang sudah kembali normal dan tidak murung lagi.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang, hari pengumuman kelulusan. Aku dan Luna berlari menuju papan pengumuman yang dipasang di halaman sekolah untuk memudahkan siswa melihat hasil ujiannya. Kami mencari baris per baris, kolom per kolom, dan ketika aku menemukan namaku di daftar kelulusan, akupun sangat senang begitupun ketika luna menemukan namanya. Tapi tiba-tiba saja aku langsung berfikir mungkin ini adalah saat-saat terakhirku bertemu dengan Luna, dan fikiran itu sukses membuatku kehilangan selera untuk merayakan kelulusan kami.

Pada hari perpisahan, orang yang sangat ingin kutemui hanya Luna, bukan teman-temanku yang lain ataupun guru-guru. Ketika ku bertemu Luna, aku langsung mengajaknya untuk berpisah dari keramaian menuju taman sekolah. Saat di taman sekolah, Luna tiba-tiba saja menangis sambil berkata padaku bahwa dia akan langsung pergi ke tempat neneknya selesai acara perpisahan ini, dan itu berarti bahwa pertemuan ini adalah pertemuan terakhir kami. Hatiku sesak saat mendengar perkataan Luna karena sejujurnya aku masih ingin menghabiskan waktu dengannya dan tidak ingin dia pergi secepat ini. Akupun mencoba menenangkannya walau sebenarnya perasaanku sangat kacau, aku bilang ke Luna bahwa aku akan sering mengirim surat untuknya ketika dia sudah disana, dan dia pun menyetujuinya. Setelah acara perpisahan selesai aku mengantar Luna ke rumahnya untuk terakhir kali dan di sepanjang jalan aku habiskan untuk mengobrol dengannya.

Setelah Luna pergi, hari-hariku diisi dengan persiapan ujian masuk Perguruan Tinggi, walau sebenarnya aku tidak pernah serius belajar karena selalu memikirkan Luna. Hingga suatu hari, aku mendapatkan surat dari Luna yang berisi

“Bagaimana kabarmu, gimana dengan persiapan ujian masuk Perguruan Tingginya? Aku disini baik-baik aja, dan akupun tinggal daftar ulang Perguruan Tinggi. Semoga kamu dapet yang terbaik ya ^_^”

 Salam, Luna.

Setelah membaca surat dari Luna, akupun langsung semangat untuk masuk ke Perguruan Tinggi itu serta tak lupa membalas surat dari Luna. Kami saling berbalas surat selama setahun dan ketika liburan kami berjanji untuk bertemu.

Ketika liburan datang, kami ketemuan di sebuah restoran yang tidak jauh dari SMA kami dulu. Ketika melihatnya, Luna tidak banyak berubah, yang berubah hanya dia tidak sedikit bicara seperti dulu. Kami bercerita banyak hal, mulai dari awal masuk kuliah sampai mengenang masa-masa SMA dulu. Hingga suatu ketika dia menceritakan bahwa dia sedang dekat dengan seorang cowok temen kuliahnya yang termasuk mahasiswa paling pintar karena IPnya yang selalu di atas 3,5. Luna terlihat sangat senang ketika menceritakan hubungannya dengan cowok tersebut, sedangkan aku hanya bisa tersenyum saat mendengarnya, walau sebenarnya hati ini sangat sakit ketika mendengar cerita tersebut. Sudah sejak lama aku memendam perasaan terhadap Luna tapi aku tak pernah bisa untuk mengungkapkannya sampai saat ini. Akhirnya setelah selesai membayar makanan, kami bergegas pulang, dan sepanjang perjalanan kami saling diam, saling sibuk dengan fikiran masing-masing. Aku mengantarnya sampai rumahnya. Saat disana dia berkata bahwa dia akan kembali esok hari dan berjanji akan mengirim surat saat tiba nanti. Aku mengatakan padanya bahwa aku akan menunggu surat darinya sambil berjalan pulang.

Hari-hari berikutnya kami tetap saling berkirim surat, hingga suatu hari aku menerima surat dari luna yang berisi “maaf, mungkin aku akan jarang membalas suratmu karena kesibukanku kuliah dan juga karena banyaknya tugas. Sekali lagi aku minta maaf.”. Setelah Luna mengirim surat tersebut, dia benar-benar jadi jarang membalas surat. Dari awalnya seminggu sekali, menjadi sebulan sekali, dua bulan sekali, hingga akhirnya dia tidak membalas suratku lagi.

Hari ini tepat setahun Luna tidak pernah membalas suratku, aku selalu bertanya kenapa dia menjadi seperti itu, apa dia lupa dengan janji yang dulu kami buat untuk selalu berkirim surat, atau mungkin dia sudah melupakanku dan berpacaran dengan orang yang pernah diceritakannya? Fikiran itu terus terlintas dalam benakku dan membuatku uring-uringan ga jelas. Tapi pada akhirnya aku sadar bahwa setiap orang akan berubah. Walau mungkin dia telah melupakanku, aku takkan pernah melupakannya dan melupakan semua hal yang pernah kualami bersamanya. Saat ini aku hanya bisa berharap yang terbaik untuknya, dan berharap agar dapat bertemu dengannya sekali lagi. 


#Fin