Genre : School Life
Author : Bagus Yudi Purnomo
Mendungnya malam ini, tanpa bintang, tanpa bulan, hanya awan
gelap yang menyelimuti. Mungkin bisa dibilang ini semua mewakili apa yang
sedang aku rasakan. Hari ini, tepat setahun sejak aku terakhir kali berkirim
surat dengannya, seorang gadis pendiam yang telah menjadi temanku sejak SMA,
bahkan aku masih ingat bagaimana awal perjumpaan kami, dan aku masih ingat
kejadian-kejadian yang kita alami bersama.
Gadis itu bernama Luna, seorang gadis polos yang pemalu dan
pendiam, tapi memiliki keunikan tersendiri yang tak bisa kujelaskan dengan
kata-kata. Kami pertama kali bertemu di lorong sekolah, ketika aku berlari
karena dikejar oleh teman-temanku dan secara tak sengaja menabrak dia yang
sedang berjalan sambil membawa tumpukan buku yang menurutku sangat berat untuk
dibawa oleh seorang gadis seperti dia.
#Flashback#
“Kamu ga apa-apa?” tanyaku kepadanya sambil membantunya
berdiri.
“Ya....ya... aku gapapa kok” ujar gadis itu sambil
membersihkan rok sekolahnya yang kotor karena terjatuh tadi.
Aku pun membantunya membawa buku-buku yang berat itu, ternyata kami membawa buku-buku itu menuju
perpustakaan sekolah, kami pun segera menuju penjaga perpustakaan untuk
mengembalikan buku-buku itu, kemudian segera keluar dari perpustakaan.
“Ma..makasih ya” ucap gadis itu sambil menunduk.
“Ya, sama-sama. Oh ya, kita belum sempet kenalan. Aku Dika,
dari kelas 2-B, salam kenal ya.” Ucapku padanya.
“Aku Luna, dari kelas 2-E, salam kenal juga Dika” balasnya
sambil tetap menunduk.
#Back to Story#
Semenjak perkenalan itu, aku jadi semakin akrab dengan Luna,
kami sering menghabiskan waktu bersama di sekolah. Aku seringkali menjemput
Luna ke kelasnya ketika waktu pulang sehingga banyak teman-temannya yang
mengira jika aku pacarnya, padahal kami hanya berteman, tidak lebih. Jarak
rumah kami bisa dibilang cukup jauh, tapi seakan jarak yang jauh itu tidak
terasa ketika kami pulang bersama, karena jalan bareng Luna menurutku
menyenangkan, walau dia lebih banyak diam dan hanya menjawab ketika aku
bertanya.
Tanpa terasa, sekarang kami sudah kelas 3 dan itu artinya
sebentar lagi kami akan menjalani ujian kelulusan dan ujian masuk Perguruan Tinggi
bagi mereka yang mau melanjutkan kuliah, atau mencari pekerjaan bagi mereka
yang sudah malas bergulat dengan buku. Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan
ke Perguruan Tinggi yang ada di kota, sedangkan Luna akan melanjutkan ke
Perguruan Tinggi yang ada di kota lain dekat tempat tinggalnya neneknya, yang
artinya kami akan berpisah untuk melanjutkan studi masing-masing.
Karena banyaknya siswa kelas 3 yang mempersiapkan diri
menghadapi ujian, termasuk aku dan Luna, kami jadi jarang bertemu ataupun
pulang bareng seperti biasanya. Aku lebih sering menghabiskan waktu mengerjakan
soal-soal ujian tahun lalu di karena biasanya ada kesamaan soal ujian dari
tahun ke tahun, sedangkan Luna lebih sering belajar di perpustakaan. Kami hanya
pulang bareng ketika Luna tidak ada jadwal les, dan seperti biasa dia hanya
diam dan menjawab ketika ku tanya.
Menjelang hari ujian, kami malah tidak bertemu sama sekali,
aku semakin giat mengisi soal-soal tahun kemarin begitupun dengan dia, ditambah
jadwal lesnya yang semakin diperbanyak menjelang ujian. Terkadang aku merasa
kesepian karena ga bisa ketemu dengan Luna, tapi aku berfikir setelah ujian
pasti kami akan kaya dulu lagi, selalu bersama.
Ketika hari ujian pun tiba, fikiranku kacau memikirkan
soal-soal ujian yang akan keluar, aku juga memikirkan apakah luna bisa menjawab
soal-soal ujian yang ada atau ngga.
Setelah beberapa hari ujian, akhirnya ujian terakhir pun
telah selesai dan aku langsung menuju ruang ujian Luna untuk bertemu dengannya
setelah sekian lama. Ketika bertemu, wajahnya terlihat murung, kutanya kenapa
dia murung tapi dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, aku berfikir mungkin
dia takut kalo jawabannya banyak yang salah dan dia tidak lulus, jdi aku
mencoba menenangkannya sambil mencari topik lain untuk dibicarakan. Walau dia
tetap tidak banyak bicara ketika aku membahas berbagai topik, tapi setidaknya
itu membantu, terbukti dengan wajahnya yang sudah kembali normal dan tidak
murung lagi.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang, hari
pengumuman kelulusan. Aku dan Luna berlari menuju papan pengumuman yang
dipasang di halaman sekolah untuk memudahkan siswa melihat hasil ujiannya. Kami
mencari baris per baris, kolom per kolom, dan ketika aku menemukan namaku di
daftar kelulusan, akupun sangat senang begitupun ketika luna menemukan namanya.
Tapi tiba-tiba saja aku langsung berfikir mungkin ini adalah saat-saat
terakhirku bertemu dengan Luna, dan fikiran itu sukses membuatku kehilangan
selera untuk merayakan kelulusan kami.
Pada hari perpisahan, orang yang sangat ingin kutemui hanya
Luna, bukan teman-temanku yang lain ataupun guru-guru. Ketika ku bertemu Luna,
aku langsung mengajaknya untuk berpisah dari keramaian menuju taman sekolah.
Saat di taman sekolah, Luna tiba-tiba saja menangis sambil berkata padaku bahwa
dia akan langsung pergi ke tempat neneknya selesai acara perpisahan ini, dan
itu berarti bahwa pertemuan ini adalah pertemuan terakhir kami. Hatiku sesak saat
mendengar perkataan Luna karena sejujurnya aku masih ingin menghabiskan waktu
dengannya dan tidak ingin dia pergi secepat ini. Akupun mencoba menenangkannya
walau sebenarnya perasaanku sangat kacau, aku bilang ke Luna bahwa aku akan
sering mengirim surat untuknya ketika dia sudah disana, dan dia pun
menyetujuinya. Setelah acara perpisahan selesai aku mengantar Luna ke rumahnya
untuk terakhir kali dan di sepanjang jalan aku habiskan untuk mengobrol
dengannya.
Setelah Luna pergi, hari-hariku diisi dengan persiapan ujian
masuk Perguruan Tinggi, walau sebenarnya aku tidak pernah serius belajar karena
selalu memikirkan Luna. Hingga suatu hari, aku mendapatkan surat dari Luna yang
berisi
“Bagaimana kabarmu, gimana dengan persiapan ujian masuk
Perguruan Tingginya? Aku disini baik-baik aja, dan akupun tinggal daftar ulang
Perguruan Tinggi. Semoga kamu dapet yang terbaik ya ^_^”
Salam, Luna.
Setelah membaca surat dari Luna, akupun langsung semangat
untuk masuk ke Perguruan Tinggi itu serta tak lupa membalas surat dari Luna.
Kami saling berbalas surat selama setahun dan ketika liburan kami berjanji
untuk bertemu.
Ketika liburan datang, kami ketemuan di sebuah restoran yang
tidak jauh dari SMA kami dulu. Ketika melihatnya, Luna tidak banyak berubah,
yang berubah hanya dia tidak sedikit bicara seperti dulu. Kami bercerita banyak
hal, mulai dari awal masuk kuliah sampai mengenang masa-masa SMA dulu. Hingga
suatu ketika dia menceritakan bahwa dia sedang dekat dengan seorang cowok temen
kuliahnya yang termasuk mahasiswa paling pintar karena IPnya yang selalu di
atas 3,5. Luna terlihat sangat senang ketika menceritakan hubungannya dengan
cowok tersebut, sedangkan aku hanya bisa tersenyum saat mendengarnya, walau
sebenarnya hati ini sangat sakit ketika mendengar cerita tersebut. Sudah sejak
lama aku memendam perasaan terhadap Luna tapi aku tak pernah bisa untuk
mengungkapkannya sampai saat ini. Akhirnya setelah selesai membayar makanan,
kami bergegas pulang, dan sepanjang perjalanan kami saling diam, saling sibuk
dengan fikiran masing-masing. Aku mengantarnya sampai rumahnya. Saat disana dia
berkata bahwa dia akan kembali esok hari dan berjanji akan mengirim surat saat
tiba nanti. Aku mengatakan padanya bahwa aku akan menunggu surat darinya sambil
berjalan pulang.
Hari-hari berikutnya kami tetap saling berkirim surat,
hingga suatu hari aku menerima surat dari luna yang berisi “maaf, mungkin aku
akan jarang membalas suratmu karena kesibukanku kuliah dan juga karena
banyaknya tugas. Sekali lagi aku minta maaf.”. Setelah Luna mengirim surat
tersebut, dia benar-benar jadi jarang membalas surat. Dari awalnya seminggu
sekali, menjadi sebulan sekali, dua bulan sekali, hingga akhirnya dia tidak
membalas suratku lagi.
Hari ini tepat setahun Luna tidak pernah membalas suratku,
aku selalu bertanya kenapa dia menjadi seperti itu, apa dia lupa dengan janji
yang dulu kami buat untuk selalu berkirim surat, atau mungkin dia sudah
melupakanku dan berpacaran dengan orang yang pernah diceritakannya? Fikiran itu
terus terlintas dalam benakku dan membuatku uring-uringan ga jelas. Tapi pada
akhirnya aku sadar bahwa setiap orang akan berubah. Walau mungkin dia telah
melupakanku, aku takkan pernah melupakannya dan melupakan semua hal yang pernah
kualami bersamanya. Saat ini aku hanya bisa berharap yang terbaik untuknya, dan
berharap agar dapat bertemu dengannya sekali lagi.
#Fin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar